Periodesasi sejarah hadits ada yang disebut Ashr al Kitabah wa al tadwin Apa yang maksud dengan istilah diatas?

Periodesasi sejarah hadits ada yang disebut Ashr al Kitabah wa al tadwin Apa yang maksud dengan istilah diatas?

Loading Preview

Sorry, preview is currently unavailable. You can download the paper by clicking the button above.

Periodesasi sejarah hadits ada yang disebut Ashr al Kitabah wa al tadwin Apa yang maksud dengan istilah diatas?

Periode ini juga disebut dengan ‘Asr al-Kitabah wa at-Tadwin. Kodifikasi (tadwin) hadis dalam periode ini adalah pembukuan secara resmi yang didasarkan pada perintah kepala negara. Kodifikasi hadis secara resmi terjadi pada penghujung abad ke-1 Hijriah, ketika khalifah ‘Umar bin Abdul ‘Aziz (w. 101 H) memerintah. Keinginan mengkodifikasikan hadis ini sebenarnya telah timbul ketika ia menjabat sebagai gubernur di Madinah (86- 93 H) pada zaman al-Walid bin Abdul Malik berkuasa. Setelah ‘Umar bin Abdul ‘Aziz memerintah (99-101 H), beliau menginstruksikan kepada seluruh ulama pada saat itu untuk menghimpun hadis nabi yang tersebar di berbagai wilayah Islam. Mandat tentang kodifikasi hadis secara resmi ini diwujudkan dalam bentuk surat perintah, yang isinya memerintahkan agar seluruh hadis Nabi di masing-masing daerah segera dihimpun. Instruksi secara khusus disampaikan kepada Abu Bakar bin Muhammad ibn Amr ibn Hazm (gubernur Madinah, w. 117 H) agar mengumpulkan hadis yang ada pada Amrah binti Abdurrahman al-Ansari (murid kepercayaan Siti ‘Aisyah) dan al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakar (w. 107 H). Instruksi yang sama juga disampaikan kepada Muh ̣ammad bin Syihab az-Zuhri (w.124 H), yang dipandang sebagai orang yang lebih banyak mengetahui hadis dari pada yang lain. Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi kodifikasi hadis pada masa khalifah ‘Umar bin Abdul Aziz. Menurut Muhammad al-Zafzaf kodifikasi hadis tersebut dilakukan karena:

Pertama, para ulama telah tersebar ke berbagai negeri, dikhawatirkan hadis akan hilang bersama wafatnya mereka, sementara generasi penerus diperkirakan tidak menaruh perhatian terhadap hadis.

Kedua, banyak berita yang diada-adakan oleh pelaku bid’ah seperti Khawarij, Rafidah, Sy’iah dan lain-lain yang berupa hadis-hadis palsu.


Baca Juga :

1. Sejarah Hadis Pada Masa Rasul Saw dan Metode Penyampaian Hadis Pada Masa Rasul Saw
2. Sejarah Hadis pada Masa Sahabat (Khulafa arRasyidin)
3. Sejarah Hadis pada Masa Tabi’in

Instruksi khalifah ‘Umar bin Abdul Aziz tersebut direspon poisitif oleh umat Islam pada waktu itu, sehingga berhasil terkumpul catatan-catatan hadis. Hasil catatan para ulama berbeda-beda, Abu Bakar bin Hazm berhasil menghimpun hadis dalam jumlah yang menurut para ulama kurang lengkap. Sedangkan Ibn Syihab az-Zuhri berhasil menghimpunnya lebih lengkap. Meskipun demikian, kitab himpunan hadis-hadis mereka tidak sampai ke kita. Ulama setelah az-Zuhri yang berhasil menghimpun kitab (tadwin) yang dapat diwariskan kepada generasi sekarang adalah Malik ibn Anas (93-179 H) di Madinah. Imam Malik menyusun kitab yang berjudul al-Muwatta’, yang selesai disusun pada tahun 143 H dan merupakan kitab hasil kodifikasi yang pertama. Kitab ini selain berisi hadis-hadis yang marfu’ juga terdapat hadis-hadis mauquf dan maqtu’.

Selain para ulama di atas, terdapat banyak ulama lain yang juga melakukan kodifikasi hadis. Di antara mereka adalah Muhammad ibn Ishaq (w. 151 H), Ma’mar bin Rasyῑd (w.13 H), Abū Amr Abdurrahman al-Auza’i (w. 156 H), Sa’id bin Abu ‘Arubah (w. 151 H), Hammad ibn Salamah (w. 176 H), Abu Abdullah, Sufyan as-Sauri (w.161 H), Abdullah bin al-Mubarak (w. 181 H), Juraij bin Abdul Humaid (w. 188 H), dan alLais bin Sa’ad (w. 175 H). Kitab-kitab yang mereka susun kebanyakan tidak sampai kepada generasi sekarang. Datanya ditemukan dalam berbagai kitab karya ulama sesudah mereka. Masa kodifikasi dilanjutkan dengan masa seleksi hadis. Yang dimaksudkan dengan masa seleksi atau penyaringan hadis adalah masa upaya para mudawwin hadis melakukan seleksi secara ketat, sebagai kelanjutan upaya para ulama sebelumnya yang telah berhasil melahirkan kitab-kitab tadwin. Masa ini dimulai sekitar akhir abad ke-2 atau awal ke-3 hijrah atau pada saat pemerintahan dinasti Abbasiyah.

Munculnya periode seleksi ini, karena pada periode tadwin belum berhasil dipisahkan antara hadis-hadis yang berasal dari Nabi (marfu’), sahabat (mauquf), dan tabi’in (maqtu’). Begitu pula belum dapat dipisahkan antara hadis-hadis sahih ̣, hasan, dan da’if, bahkan masih terdapat hadis-hadis maudu’. Masa ini disebut dengan ‘Asr at-Tajr wa at Tashih wa at-Tanqih (masa penerimaan, pentashihan, dan penyempurnaan).

Kitab-kitab hadis yang berhasil disusun oleh para ulama ahli hadis pada periode ini sangat banyak di antaranya adalah kitab enam standar atau yang disebut dengan al-Kutub as-Sittah. Karya-karya Muhammad ibn Ism’ail al-Bukhari (w. 256 H), Muslim (w. 271 H), ̣ Abu Dawud as-Sijistani (w. 275 H), Muhammad Ibn Isa at-Turmuzi (w. 279 H), Ahmad Ibn Syu’aib an-Nasa’i (w. 303 H), Ibnu Majah al-Qazwaini (w. 273 H) dan yang lain lain pada periode ini, telah memakai cara kodifikasi hadis secara sistematis, kritis dan dilakukan dengan penuh kesungguhan.

Setelah itu tidak ada karya-karya hadis lain yang memiliki kualitas menyamai atau bahkan melebihi kitab-kitab karya mereka. Sampai saat ini pula kita masih dapat menikmati buah karya mereka yang hebat.

Demikianlah sahabat bacaan madani ulasan tentang sejarah hadis masa kodifikasi hadis awal abad ke-2 H. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari pembahasan tersebut. Aamiin. Sumber Hadis Ilmu Hadis Kelas X MA, Kementerian Agama Republik Indonesia, Jakarta 2014. Kujungilah selalu www.bacaanmadani.com semoga bermanfaat. Aamiin.

Periodesasi sejarah hadits ada yang disebut Ashr al Kitabah wa al tadwin Apa yang maksud dengan istilah diatas?

Periodesasi sejarah hadits ada yang disebut Ashr al Kitabah wa al tadwin Apa yang maksud dengan istilah diatas?

Gambar: Buku Sejarah Perkembangan Hadits, karya T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy

A. Pendahuluan

Mempelajari hadits tentu tidak terlepas dari peran Nabi Muhammad Saw sebagai contoh dan suri tauladan bagi umatnya. Hadits diketahui telah ada sejak awal perkembangan Islam yang sudah pasti merupakan realitas yang tidak dapat diragukan lagi. Sesungguhnya wajar sekali jika kaum muslimin (terutama para sahabat r.a.) memperhatikan apa saja yang dilakukan ataupun yang diucapkan oleh beliau, terutama sekali yang berkaitan dengan fatwa-fatwa keagamaan. Orang-orang Arab yang suka menghafal dan syair-syair dari para penyair mereka, ramalan-ramalan dari peramal mereka, dan pernyataan-pernyataan dari para hakim, tidak mungkin lengah untuk mengisahkan kembali perbuatan-perbuatan dan ucapan-ucapan dari seorang yang mereka akui sebagai seorang Rasul Allah.

Di samping sebagai utusan Allah, Nabi adalah panutan dan tokoh masyarakat. Selanjutnya dalam kapasitasnya sebagai apa saja (Rasul, pemimpin masyarakat, panglima perang, kepala rumah tanggal, maupun teman), maka tingkah laku, ucapan dan petunjuknya disebut sebagai ajaran Islam. Beliau sendiri sadar sepenuhnya bahwa agama yang dibawanya harus disampaikan dan terwujud secara konkret dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu dalam setiap kesempatan, Nabi berupaya berdialog maupun berdiskusi dengan para sahabat dalam memenuhi haknya untuk lebih mendalami ajaran Islam.

Oleh karena itu, melalui makalah ini dipandang perlu untuk mengkaji dan menelaah tentang pengertian dan fungsi hadits terhadap Al-Qur’an, sekaligus menelusuri bagaimana sejarah perkembangan hadits mulai dari masa Rasulullah Saw, para sahabat, para tabi’in, hingga masa sekarang. Karena keberadaan hadits bagi umat Islam akan menjadi sebuah pedoman hidup yang utama dalam agama Islam setelah Kalamullah (Al-Qur’an).

B. Pengertian Hadits

Sebelum membahas tentang sejarah perkembangan hadits dari periode pertama hingga terakhir, terlebih dahulu diulas pengertian dan kedudukan hadits dalam agama Islam. Menurut bahasa, Hadits berarti الجديد, yaitu sesuatu yang baru, menunjukan sesuatu yang dekat dan waktu yang singkat[1]. Hadits juga berarti الخبر , yang berarti “berita”, yaitu sesuatu yang diberitakan, diperbincangkan, dan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain. Disamping itu, Hadits juga berarti القريب, yang berarti ”dekat”, dan tidak lama lagi terjadi[2].

Sedangkan hadits menurut istilah terdapat perbedaan antara beberapa ulama terutama antara ulama muhadditsun, ushuliyyun, dan fuqaha.

1. Menurut ahli hadits atau muhadditsun, pengertian hadits ialah:

آقوال النبي ﷺ و آفعاله وحواله وقال الاخر : كل ما آثرر عن النبي ﷺ من قول آو فعل آو اقرار

Artinya:

“Seluruh perkataan, perbuatan, dan hal ihwal tentang Nabi Muhammad Saw. Sedangkan menurut yang lainnya adalah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Saw, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapannya.”

2. Menurut ahli Ushul atau ushuliyyun, pengertian hadits adalah: “Semua perkataan, perbuatan, dan takrir Nabi Muhammad Saw yang berkaitan dengan hukum syara dan ketetapannya”. Atau juga diistilahkan dengan:

اقواله ﷺ وافعاله وتقاريره ممايتعلق به حكم بنا

Artinya:

 “Segala perkataan, perbuatan, dan takrir Nabi yang bersangkutan dengan hukum

3. Sedangkan menurut ulama’ Fiqih (fuqaha), pengertian hadits adalah suatu ketetapan yang datang dari Rasulullah Saw dan tidak termasuk kategori fardhu dan wajib, namun adalah sifat syara’ yang menuntut pekerjaan tapi tidak wajib dan tidak disiksa bagi yang meninggalkannya. Contohnya seperti shalat sunnah, puasa sunnah dan lain-lain[3].

Jadi singkatnya, hadits ialah semua yang datang dari Rasul Saw, baik berupa perkataan, tindakan, ataupun ketetapan beliau. Setelah berlalu masa Rasul Saw dimasukkan ke dalam hadits apa yang datang dari para sahabat, sebab sahabat adalah mereka yang selalu bergaul dengan Nabi Saw, mulai mendengar perkataan beliau hingga menyaksikan perbuatannya, kemudian mereka menceritakan apa yang mereka lihat dan yang mereka dengar. Lalu datang kemudian para tabi’in yang bergaul dengan para sahabat mendengar dari mereka dan melihat perbuatan mereka[4].

Dalam hukum Islam, hadits adalah sumber hukum Islam yang kedua setelah Al-Qur’an[5]. Artinya, hadits merupakan referensi kedua yang menjadi rujukan dalam segala amal-amal yang dilakukan oleh kaum muslimin setelah Al-Qur’an. Hadits juga bisa dijadikan sebuah penjelas dan nalar dari kitab Al-Qur’an. Hadits diibaratkan sebuah tonggak penggerak dari pondasi yang bernama Al-Qur’an, dan Al-Qur’an berjalan beriringan dengan hadits dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain[6]. Maka sudah seharusnya selain beriman kepada Allah dan kitab-kitab-Nya (Al-Qur’an), kaum muslimin juga beriman kepada Rasul-Nya, serta apa yang diucapkan dan dilakukan oleh beliau dalam kehidupan sehari-hari. Firman Allah Swt:

Artinya:

Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk” (QS. Al-A’raf: 158)

Dan juga terdapat pada ayat Al-Qur’an yang lain:

Artinya:

Apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. (QS. Al-Hasyr: 7)

C. Fungsi Hadits Terhadap Al-Qur’an

Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa hadits adalah sumber hukum islam kedua yang telah di sepakati oleh para ulama (ahlul ilmi) setelah Al-Qur’an[7]. Disamping itu, hadits juga memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan Al-Qur’an apalagi bila ditinjau dari segi fungsinya. Fungsi hadits terhadap Al-Qur’an secara umum antara lain:

1. Bayan Ta’kid

Bayan ta’kid atau disebut juga dengan bayan Taqrir atau bayan itsbat adalah hadits yang berfungsi untuk memperkokoh atau memperkuat isi kandungan Al-Qur’an.[8] Dalam hal ini, hadits hanya berfungsi untuk memperkokoh isi kandungan Al-Qur’an,[9] dengan demikia maka kandungan hukumnya memiliki dua dalil sekaligus yaitu Al-Qur’an dan Hadits Nabi.[10]

Di antara contoh bayan ta’kid salah satunya ialah tentang puasa[11]. Firman Allah Swt:

Artinya:

Karena itu, barang siapa yang mempersaksikan pada waktu itu bulan, hendaklah ia berpuasa… (Q. S. Al-Baqarah: 185)

Ayat Al-Qur’an di atas di-ta’kid atau diperkuat oleh hadits Nabi Saw berikut:

Artinya:

“Apabila kalian melihat (ru’yat) bulan maka, berpuasalah. Dan begitu pula apabila melihat (ru’yat) bulan itu maka, berbukalah”(HR. Muslim).

2. Bayan Tafsir

Yang dimaksud dengan bayan tafsir adalah hadits berfungsi untuk menerangkan ayat-ayat yang sangat umum (‘aam), global (mujmal), dan kesaman makna (musytarak) dengan memberikan perincian  penafsiran terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang masih global (mujmal), memberikan batasan (taqyid) ayat-ayat Al-Qur’an yang masih belum terbatasi (muthlaq), dan memberikan kekhususan (takhshis) ayat-ayat yang masih umum (‘aam).[12] Badri Khaeruman mendefinisikan dengan hadits yang difungsikan menerangkan hal-hal yang tidak mudah diketahui pengertiannya (mujmal atau musytarok fihi)[13], atau dapat dikatakan memberikan penafsiran dan penjabaran yang lebih konkret tentang garis besar yang ada di dalam al-Qur’an.[14]

Di antara contoh bayan tafsir ini antara lain[15]:

a. Bayan Tafsir Mujmal

Yaitu seperti hadits yang menerangkan keumuman ayat-ayat tentang perintah Allah Swt untuk mengerjakan shalat, puasa, zakat dan haji. Ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan masalah ibadah tersebut masih bersifat global atau secara garis besarnya saja. Contohnya kita diperintahkan shalat, namun Al-Qur’an tidak menjelaskan bagaimana tata cara shalat, tidak menerankan rukun-rukunnya dan kapan waktu pelaksanaannya. Semua ayat tentang kewajiban shalat tersebut dijelaskan oleh Nabi SAW dengan sabdanya,

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ

Artinya:

 “Shalatlah sebagaimana kamu melihatku shalat.” (H.R. Bukhari)

b. Bayan Tafsir Musytarak Fihi

Yaitu seperti ayat yang menjelaskan tentang quru’. Allah Swt berfirman:

Artinya:

Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya.Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Baqarah: 228)

Untuk menjelaskan lafadz quru’ ini, datanglah hadits Nabi SAW berikut ini,

طَلاَقُ الْأَمَةِ إِثْنَتَـانِ وَعِدَّ تُهَـا حَيْضَتَـانِ

Artinya:

“Talak budak dua kali dan iddahnya dua haid.” (H.R. Ibnu Majah)

Sehingga arti kata perkataan quru’ dalam ayat Al-Qur’an tersebut di atas berarti suci dari haid.

c. Bayan Tafsir Taqyid

Adalah sifat mutlaq ayat Al-Qur’an yang antara lain ayat yang berkaitan dengan pencuri sebagai berikut:

Artinya:

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Maidah: 38)

Hadits Nabi:

لاَ تُقْطَعُ يَدُ السَّـارِقِ إِلَّافَيْ رُبْعِ دِيْنَـارٍ فَصـَاعِدًا

Artinya:

 “Tangan pencuri tidak boleh di potong, melainkan pada (pencurian sebilai) seperempat dinar atau lebih.” (HR. Muslim)

3. Bayan Takhshis

Bayan Takhshis adalah membatasi atau mengkhususkan kandungan ayat-ayat al-Qur’an yang bersifat umum[16]. Sebagai contoh adalah hadits Nabi SAW:

لاَ يَرِثُ الْقَاتِلُ مِنَ الْمَقْتُوْلِ شَيْـأً

Artinya:

 “Seorang pembunuh tidak berhak menerima harta warisan” (HR. Ahmad)

Yang membatasi ayat al-Qur’an an-Nisa 11:

Artinya:

Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan. (QS. An-Nisa: 11)

4. Bayan Taqyid

Bayan Taqyid adalah membatasi ayat yang bersifat mutlak (hakikat kata tampa memandang jumlah maupun sifatnya) dengan sifat, keadaan atau syarat tertentu.[17]

Contoh ayat Q. S Al-Maidah (5) : 38, yaitu :

Artinya:

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Maidah: 38)

Hadits Nabi:

لاَ تُقْطَعُ يَدُ السَّـارِقِ إِلَّافَيْ رُبْعِ دِيْنَـارٍ فَصـَاعِدًا

Artinya:

 “Tangan pencuri tidak boleh di potong, melainkan pada (pencurian sebilai) seperempat dinar atau lebih.” (HR. Muslim)

5. Bayan Tasyri’

Yang dimaksud dengan bayan tasyri’ adalah ajaran-ajaran yang tidak didapati dalam al-Qur’an maka dimunculkan hukumnya, baik yang tidak ada sama sekali atau yang diketemukan pokok-pokoknya (ashl) saja.[18]

Hadits termasuk ke dalam kelompok ini, diantaranya adalah hadits penetapan haramnya mengumpulkan dua wanita bersaudara (antara istri dengan bibinya), hukum syuf’ah, hukum merajam wanita pezinah yang masih perawan, dan hukum tentang hak waris bagi seorang anak. Salah satu contoh yang lain adalah hadits tentang hukum zakat fitrah sebagai berikut;[19]

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلَى النَّاسِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى كُلِّ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى مِنْ الْمُسْلِمِينَ

Artinya:

 “Bahwasanya Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitrah kepada umat Islam pada bulan Ramadlan satu sukat (sha’) kurma atau gandum untuk setiap orang, baik merdeka atau hamba, laki-laki atau perempuan Muslim.” (H. R Muslim)

6. Bayan Tabdil

Bayan tabdil disebut juga dengan nasakh (membatalkan), alijalah (menghilangkan), tahwil (memindahkan), atau taqyir (mengubah). Yang dimaksud dengan tabdil disini adalah menghapus ketentuan hukum yang ada di al-Qur’an.[20]

Salah satu contoh dari katagori bayan tabdil adalah sabda Rasul SAW dari ibnu Umamah Al-Bihili,

إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَعْطَى كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ فَلَا وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ

Artinya:

 “Sesungguhnya Allah telah memberikan kepada tiap-tiap orang haknya (masing-masing). Maka, tidak ada wasiat bagi ahli waris.”(H. R Ahmad dan Al-Arba’ah, kecuali An-Nasa’i. Hadits ini dinilai hasan oleh Ahmad dan At-Tirmidzi).

Hadits ini menurut mereka menasakh isi Al-Qur’an surat Al-Baqarah (2): 180, yakni;

 Artinya:

Diwajibkan atas kamu, apabila seorng di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dari karib kerabatnya secara makruf, (ini adalah) kewajiban atau orang-orang yang bertaqwa (Q. S. Al-Baqarah (2): 180)

Kewajiban melakukan wasiat kepada kaum kerabat dekat berdasarkan Q. S Al-Baqarah (2): 180 di atas, di naskh hukumnya dengan hadits yang menjelaskan bahwa ahli waris tidak boleh menerima wasiat, sebab ahli waris akan mendapatkan bagian warisan tersendiri setelah mayit meninggal[21].

Sehubungan dengan fungsi hadits sebagai bayan tersebut, para ulama berbeda pendapat dalam merincinya lebih lanjut[22].

1. Menurut Imam Malik bin Anas, yaitu: meliputi bayan taqrir, bayan tafsir, bayan tafshil, bayan Isbat, dan bayan tasyri’.

2. Menurut Imam Asy-Syafi’i, yaitu: meliputi bayan takhsis, bayan ta’yin, bayan tasyri’, bayan nasakh, bayan tafshil, dan bayan isyaroh.

3. Menurut Ahman bin Hanbal: yaitu meliputi bayan ta’kid, bayan tafsir, bayan tasyri’, dan bayan takhsis.

Meskipun para ulama menggunakan istilah yang berbeda, namun pada dasarnya yang mereka maksudkan sama saja. Secara umum fungsinya adalah menguatkan (ta’qid), merinci (tafshil), menjelaskan (tafsir), memunculkan hukum baru (tasyri’) serta merevisi hukum Al-Qur’an (naskh) [23].

C. Sejarah Perkembangan Hadits

Sejarah perkembangan hadits merupakan masa atau periode yang telah dilalui oleh hadits dari masa lahirnya dan tumbuh dalam pengenalan, penghayatan, dan pengamalan umat dari generasi ke generasi[24]. Terhitung dimulai pada masa kemunculannya di zaman Nabi Saw, maka T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy membagi sejarah perkembangan hadits dalam tujuh periode, antara lain: Masa Rasulullah Saw, masa Khulafaur Rasyidin, masa pasca era Khulafaur Rasyidin hingga abad pertama hijriyah, masa abad kedua Hijriyah, masa abad ketiga Hijriyah, masa abad keempat hingga tahun 656 Hijriyah, dan masa tahun 656 H hingga Sekarang[25]. Ketujuh periode tersebut akan dijelaskan lebih detail berikut ini.

1. Perkembangan Hadits Pada Masa Rasulullah SAW

Periode ini disebut ‘Ashr Al-Wahyi wa At-taqwin’ (masa turunnya wahyu dan pembentukan masyarakat Islam)[26]. Pada masa ini, hadits belum mendapat pelayanan dan perhatian sepenuhnya seperti Al-Qur’an. Seperti yang telah diketahui, Rasul Saw mengharapkan para sahabatnya untuk menghafalkan Al-Qur’an dan menuliskannya di tempat-tempat tertentu, seperti keping-keping tulang, pelepah kurma, di batu-batu, dan sebagainya. Untuk itulah para sahabat, terutama yang mempunyai tugas istimewa, selalu mencurahkan tenaga dan waktunya untuk mengabadikan ayat-ayat Al-Qur’an di atas alat-alat yang mungkin dapat dipergunakannya[27].

Tetapi tidak demikian halnya terhadap hadits. Pada saat itu para sahabat menyampaikan sesuatu dari hadits Nabi SAW hanya melalui lisan dan pendengaran saja. Karena terdapat sabda Rasul Saw yang berbunyi,

لاَتَكْتُبُواعَنَّي وَمَنْ كَتَبَ عَنَّي غَيْرَ لْقُرْ آنِ فَلْيَمْحُهُ وَحَدَّثُوْا حَرَجَ وَمَنْ كَذَ بَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ  مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ (رواه مسلم)

Artinya:

 “Jangan kamu tulis sesuatu yang telah kamu terima dariku selain Al-Qur’an. Barang siapa menulis dariku selain al-Qur’an, maka hapuslah. Ceritakan saja yang kamu terima dariku, tidak mengapa. Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia menduduki tempat duduknya di neraka.” (HR Muslim).

Dalam riwayat lain, Sa’id al-Khudri mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

(لاتكتبو اعنّى شيئا غير القران فمن كتب عنىّ شيئا غير القر ان فليمحه (رواه مسلم

Artinya:

”Jangan menulis apa-apa selain Al-Qur’an dari saya, barang siapa yang menulis dari saya selain Al-Qur’an hendaklah menghapusnya”. (HR. Muslim) [28].

Kemudian Rasulullah Saw memberikan izin secara umum ketika sebagian besar wahyu telah turun dan sudah banyak orang menghafalnya, serta aman dari kerancuan dari yang lainnya, sebagaimana yang diceritakan oleh Abdullah bin Amr, Nabi Saw. bersabda:

اكتب، فو الذى نفسى بيده ما خرج منه الا الحق

Artinya:

”Tulislah!, demi Dzat yang diriku didalam kekuasaan-Nya, tidak keluar dariku kecuali yang hak”. (Sunan al-Darimi)[29].

a. Cara Rasul Saw Menyampaikan Hadits

Ada beberapa cara Rasulullah Saw dalam menyampaikan hadits, antara lain:

1) Melalui jama’ah dalam majelis ta’lim.

2) Melalui sahabat dan disampaikan ke orang lain.

3) Cara lain yang dilakukan Rasul Saw adalah melalui ceramah atau pidato di tempat terbuka, seperti ketika haji wada’ dan Fathul Makkah[30].

Adapun dalam mengajar hadits, Syeikh Muhammad at-Thahhan menjelaskan, bahwa Rasul Saw menggunakan tiga metode, yaitu lisan, tulisan dan peragaan praktis.

1) Metode Ucapan (Lisan)

Sebagai seorang guru untuk seluruh umat manusia, tentu Nabi Saw berupaya keras agar ajaran yang beliau sampaikan dapat dipahami, dihayati dan diamalkan. Dengan demikian, ajaran yang telah disampaikan itu tetap otentik dan tidak mudah terlupakan. Oleh karena itu, Nabi biasa mengulangi hal-hal penting sampai tiga kali. Setelah beliau yakin pelajaran yang disampaikan mampu dipahami dan dihafal oleh para Sahabat, maka beliau berkenan untuk memerintah para Sahabat untuk menirukan ucapannya, sekaligus mendengarkan dan mengoreksinya[31]. Hal ini dilakukan oleh Nabi dalam rangka memudahkan para Sahabat belajar dan memperoleh hadits.

2) Metode Tulisan

Gerak diplomasi Rasul untuk mengirim delegasi khusus untuk menyampaikan surat kepada raja dan penguasa dikawasan Timur Tengah pada waktu itu, dan surat beliau kepada para kepala suku dan gubernur muslim dapat dikategorikan sebagai metode penyebaran hadits melalui media tulis. Beberapa surat tersebut sangat panjang dan mengandung berbagai masalah hukum, seperti zakat, jizyah, dan cara-cara ibadah lainya.

Dalam melakukan misi tersebut, Nabi Saw mengangkat 42 juru tulis yang siap bekerja pada saat diperlukan. Masuk dalam kategori ini yaitu kegiatan imla’ Nabi, para Sahabat seperti Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash. Rasul juga  pernah memerintahkan agar transkrip khutbahnya dikirim kepada seorang warga Yaman bernama Abu Syadi[32].

3) Metode Peragaan Praktis

Sepanjang hidup Rasul Saw terhitung sejak menerima wahyu senantiasa memberi pelajaran praktis disertai perintah yang jelas untuk mengikutinya. Misalnya beliau bersabda: “Shalatlah anda seperti saya mempraktikkan shalat” dan juga beliau bersabda: “Ambillah cara-cara haji anda (manasik) dari cara aku melaksanakan haji”.

Dalam menjawab pertanyaan, disamping Rasul menjawab langsung secara lisan (sunnah qawliyah), beliau selalu meminta si penanya untuk tinggal bersama beliau dan belajar melalui pengamatan terhadap perilaku dan praktik ibadah beliau sehari.

Tataran kenyataan ini dalam metodologi penelitian modern masuk dalam kategori pendekatan campuran antara penelitian kuantitatif dan kualitatif. Suatu model penelitian yang jika dilakukan secara sungguh-sungguh validitasnya sangat meyakinkah dan komprehensif[33].

b. Perbedaan Para Sahabat dalam Menguasai Hadits

Kadar penguasaan tentang hadits, para sahabat memiliki beberapa perbedaan yang disebabkan oleh beberapa faktor; pertama, kesempatan bersama Rasulullah; kedua, kesanggupan bertanya pada sahabat lain; dan ketiga, waktu masuk Islam dan jarak tempat tinggal dari masjid Rasul Saw. Adapun beberapa sahabat yang tercatat sebagai sahabat yang banyak menerima hadits Rasul Saw antara lain disebabkan:

1) Para sahabat yang tergolong kelompok sahabat Al-Sabuqun Al-Awwalun (yang mula-mula masuk Islam), seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan Ibnu Mas’ud. Mereka banyak menerima hadits dari Rasulullah Saw, karena lebih awal masuk Islam dari sahabat-sahabat lainnya.

2) Ummahatul Mukminin (istri-istri Rasul Saw), seperti Siti Aisyah r.ha. dan Ummu Salamahha. Mereka secara pribadi lebih dekat dengan Rasulullah dari pada sahabat-sahabat lainnya. Hadits-hadits yang diterimanya, banyak yang berkaitan dengan soal-soal keluarga dan pergaulan suami-istri.

3) Para sahabat yang disamping selalu dekat dengan Rasul Saw, juga menulis hadits-hadits yang diterimanya, seperti Abdullah Amr bin al-‘Ash.

4) Para sahabat yang meskipun tidak lama bersama Rasul SAW, akan tetapi banyak bertanya kepada para sahabat lainnya secara sungguh-sungguh, seperti Abu Hurairah.

5) Para sahabat yang secara sungguh-sungguh mengikuti majlis Rasul Saw banyak bertanya kepada sahabat lain dari sudut usia tergolong yang hidup lebih lama dari wafatnya Rasul SAW, seperti Abdullah bin Umar, Anas bin malik dan Abdullah bin abbas[34].

c. Menghafal dan Menulis Hadits

1) Menghafal Hadits

Pada masa Nabi Saw., kepandaian baca tulis dikalangan para sahabat sudah bermunculan, hanya saja terbatas sekali. Karena kecakapan baca tulis para sahabat masih kurang. Maka Nabi Saw menekankan untuk menghafal, memahami, mematerikan, dan mengamalkan hadits dalam amalan sehari-hari, serta menyampaikannya kepada orang lain[35].

Rasul Saw sendiri melarang hadits itu ditulis sebagaimana yang telah dijelaskan pada hadits sebelumnya. Abu Said al-Khudri pernah melaporkan bahwa Rasul Saw bersabda, “Janganlah anda menulis (sesuatu) dari saya. Barang siapa yang telah terlanjur menulis, maka hapuslah. Ceritakanlah (segala sesuatu) dari saya. Demikian tidak apa-apa”. Menurut Mahmud at-Tahhan, larangan tersebut dimaksudkan kepada larangan penulisan hadits yang tidak professional. Sebab saat itu dikhawatirkan akan bercampur dengan al-Qur’an[36].

Maka dari itu, segala hadits yang diterima dari Rasulullah kepada sahabat diingatnya dengan sungguh-sungguh dan hati-hati, dari sinilah para sahabat termotivasi untuk menghafal hadits beliau. Hal ini disebabkan karena beberapa alasan: pertama, kegiatan menghafal merupakan budaya bangsa Arab yang telah diwarisinya sejak pra-Islam dan mereka terkenal kuat hafalannya; kedua, Rasul SAW banyak memberikan spirit melalui doa-doanya; Ketiga, seringkali ia menjanjikan kebaikan akhirat kepada mereka yang menghafal hadits dan menyampaikannya kepada orang lain.

2) Perintah Menulis Al-Hadits

Bagaimanapun juga pengetahuan orang Arab tentang baca-tulis di Mekah lebih banyak dari pada di Madinah. Hal ini Rasulullah memerintahkan kaum kafir Mekah yang tertawan dalam perang Badar untukk meenebus dirinya dengan mengajarkan baca-tulis kepada sepuluh orang anak di Madinah. Sejak Rasulullah hijrah ke Madinah, orang yang bisa menulis semakin bertambah. Seorang penulis indah bernama Abdullah bin Sa’id bin Al-Ash mengajarkan tulis-menulis kepada para peminat di Madinah[37]. Ada dugaan kuat bahwa sembilan masjid pada masa Rasulullah digunakan untuk sebagai tempat menyebarkan ilmu. Setelah diketahui berdasarkan sensus, tercatat ada 1500 orang pria menyatakan dirinya Islam[38].

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya terkait larangan menulis hadits, Rasulullah SAW juga memerintahkan kepada beberapa orang sahabat tertentu untuk menulis hadits. Misalnya, hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra menerangkan bahwa sesaat ketika kota Mekah telah dikuasai kembali oleh Rasulullah SAW beliau berdiri berpidato di hadapan para manusia.  Pada waktu beliau berpidato, tiba-tiba seorang laki-laki yang berasal dari Yaman yang bernama Abu Syah berdiri dan bertanya kepada Rasulullah saw., ujarnya, “Ya Rasulullah! Tulislah untukku!” Jawab Rasul, “Tulislah oleh kamu sekalian untuknya!”[39]

d. Beberapa Sahabat Yang Memiliki Naskah Hadits

Para sahabat dan tabi’in yang mempunyai naskah hadits pada masa Rasulullah Saw antara lain sebagai berikut.

1) Abdullah bin Amr bin Ash r.a. (65 H)

Abdullah bin Amr bin Ash r.a. adalah salah seorang sahabat yang selalu menulis apa yang pernah didengarnya dari Nabi Muhammad SAW. Tindakan ini pernah didengar oleh orang-orang Quraisy, mereka mengatakan, “Apa engkau menulis semua yang telah kau dengar dari Nabi? Sedang beliau itu hanya manusia, kadang-kadang berbicara dalam suasana suka dan kadang-kadang berbicara dalan suasana duka?” Atas teguran tersebut, ia segera menanyakan tentang tindakannya kepada Rasulullah SAW. Maka, jawab Rasulullah SAW, “Tulislah! Demi Zat yang nyawaku ada di tangan-Nya, tidaklah keluar daripadanya, selain hak.” (HR Abu Dawud), dan Abu Hurairah pernah mengatakan: “Tidak ada satu pun sahabat Nabi yang haditsnya melebihi aku selain Abdullah bin Amru, ia menulisnya sedangkan aku tidak menulisnya.” (Fathul Baari: 1/217).

Rasulullah SAW mengizinkan Abdullah bin Amr bin Ash untuk menulis apa-apa yang didengarnya dari beliau karena ia adalah salah seorang penulis yang baik. Naskah ini disebut dengan Ash-Shahifah ash-Shadiqah, karena ditulisnya secara langsung dari Rasulullah SAW.

Naskah hadits Ash-Shadiqah berisikan hadits sebanyak 1000 hadits, dan dihafal serta dipelihara oleh keluarganya sepeninggal penulisnya. Cucunya yang bernama Amr bin Syu’aib meriwayatkan hadits-hadits tersebut sebanyak 500 hadits. Bila naskah Ash-Shadiqah ini tidak sampai kepada kita menurut bentuk aslinya, dapat kita temukan secara kutipan pada kitab Musnad Ahmad, Sunan Abu Dawud, Sunan An-Nasai, Sunan At-Tirmizi, dan Sunan Ibnu Majah[40].

2) Jabir bin Abdullah al-Anshari r.a. (78 H)

Naskah haditsnya disebut Shahifah Jabir. Qatadah bin Da’amah as-Sudusy memuji naskah Jabir ini dengan katanya, “Sungguh, shahifah ini lebih kuhafal daripada surat Al-Baqarah[41].”

3) Human bin Munabbih a. (131 H)

Ia adalah seorang tabi’in alim yang berguru kepada sahabat Abu Hurairah ra dan banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW. Hadits-hadits tersebut kemudian ia kumpulkan dalam satu naskah yang dinamai Ash-Shahifah ash-Shahihah. Naskah itu berisikan hadits sebanyak 138 hadits[42].

Imam Ahmad di dalam musnadnya menukil hadits-hadits Humam bin Munabbih keseluruhannya. Dan Imam Bukhari banyak sekali menukil hadits-hadits tersebut ke dalam kitab sahihnya, terdapat dalam beberapa bab.

Perlu diketahui, nash-nash yang melarang menulis hadits di satu pihak dan yang mengizinkan di pihak lain bukanlah nas-nas yang saling bertentangan satu sama lain, akan tetapi nas-nas itu dapat dikompromikan sebagai berikut.

1) Bahwa larangan menulis hadits itu adalah terjadi pada awal-awal Islam untuk memelihara agar hadits itu tidak bercampur dengan Al-Qur’ Tetapi, setelah jumlah kaum muslimin semakin banyak dan telah banyak yang mengenal Al-Qur’an, maka hukum melarang menulisnya telah dihapus dengan perintah yang membolehkannya. Dengan demikian, hukum menulisnya adalah boleh.

2) Bahwa larangan hadits itu adalah bersifat umum, sedang perizinan menulisnya bersifat khusus bagi orang yang mempunyai keahlian tulis-menulis, hingga terjaga dari kekeliruan dalam menulisnya dan tidak dikhawatirkan akan salah, seperti Abdullah bin Amr bin Ash.

3) Bahwa larangan menulis hadits ditujukan kepada orang yang lebih kuat menghafalnya daripada menulisnya, sedang perizinan menulisnya diberikan kepada orang yang tidak kuat hafalannya, seperti Abu Syah.

4) Penjelasan di atas sekaligus sebagai bantahan kepada pengusung orientalis yang memiliki anggapan bahwa hadits baru ditulis pada abad kedua, atau hadits tidak pernah ditulis pada masa Nabi SAW[43].

2. Perkembangan Hadits Pada Masa Sahabat (Khulafa’ Ar-Rasyidin)

Sahabat dalam arti etimologi adalah pecahan dari kata ‘shubhah’ yang berarti orang yang menemani[44]. Secara arti terminologi Muhammad Mahmud Abu Zahwu menjelaskan dalam al-Hadits wa al-Muhaditsun-nya, menjelaskan bahwa Sahabat adalah orang yang bertemu Nabi, beriman kepada ajaran Nabi, dan meninggal dalam keadaan Islam[45]. Ada juga pendapat lain mengatakan bisa dinamakan Sahabat jika dia berguru langsung kepada Nabi ataupun mendapatkan pelajaran dari Sahabat yang mendengarnya. Akan tetapi pembahasan sahabat disini lebih dikhususkan pada kepemimpinan sahabat yang lima (Khulafaur Rasyidin) sepeninggal Rasulullah Saw.

Periode ini disebut ‘Ash-At-Tatsabbut wa Al-Iqlal min Al-Riwayah’ (masa membatasi dan menyedikitkan riwayat). Nabi Saw. wafat pada tahun 11 H. Kepada umatnya, beliau meninggalkan dua pegangan sebagai dasar bagi pedoman hidup, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits yang harus dipegang dalam seluruh aspek kehidupan umat[46]. Karakteristik yang nampak pada era sahabat ini adalah, bahwa para sahabat memiliki komitmen yang kuat terhadap kitab Allah. Mereka memeliharanya dalam lembaran- lembaran mushaf, dan dalam hati mereka[47].

Ada dua jalan para sahabat dalam meriwayatkan hadits dari Rasul SAW. Yang pertama ialah dengan jalan periwayatan lafzhi (redaksinya persis seperti yang disampaikan Rasul Saw), dan yang kedua ialah dengan jalan periwayatan maknawi (maknanya saja)[48]. Menurut ‘Ajjaj Al-Khatib, sebenarnya seluruh sahabat menginginkan agar periwayatan itu dengan lafzhi bukan dengan maknawi. Dalam hal ini Umar bin Khatab berkata, “Barang siapa yang mendengar hadits Rasulullah kemudian ia meriwayatkannya sesuai dengan yang ia dengar, maka orang itu akan selamat.”[49]

Diantara sahabat yang paling keras mengharuskan periwayatan lafzhi adalah Ibnu Umar.  Ia seringkali menegur sahabat yang membacakan hadits yang berbeda (walau satu kata) dengan yang pernah didengarnya dari Rasul SAW., seperti yang dilakukan terhadap Ubaid ibn Amir. Suatu ketika seorang sahabat menyebutkan hadits tentang lima prinsip dasar Islam dengan meletakkan puasa Ramadhan pada urutan ketiga. Ibnu Umar serentak menyuruh agar meletakkannya pada urutan keempat, sebagaimana yang didengarnya dari Rasulullah SAW[50].

Jadi, periwayatan hadits dengan cara maknawi akan mengakibatkan munculnya hadits-hadits yang redaksinya antara satu hadits dengan hadits yang lainnya berbeda-beda, meskipun maksud dan tujuannya sama. Hal ini sangat tergantung kepada para sahabat yang meriwayatkan hadits-hadits tersebut.

Pada masa khilafah Abu Bakar dan Umar, periwayatan tersebar secara terbatas. Penulisan hadits pun masih terbatas dan belum dilakukan secara resmi. Bahkan pada masa itu Umar melarang para sahabat untuk memperbanyak meriwayatkan Hadits, dan sebaliknya, umar menekankan agar para sahabat mengerahkan perhatiannya untuk  menyebarluaskan Al-Qur’an[51].

Sebenarnya ketika Umar bin Khattab r.a. menjabat sebagai khalifah, sempat terbesit gagasan untuk membukukan hadits. Namun beliau terus-menerus mempertimbangkan gagasan ini, padahal sebelumnya ia berniat mencatatnya. Diriwayatkan dari Urwah bin Az-Zubair bahwa Umar bin Khatab ingin menulis hadits. Ia lalu meminta pendapat kepada para sahabat Rasulullah dan umumnya mereka menyetujui. Tetapi keraguan Umar selama sebulan akhirnya melakukan istikharah, memohon petunjuk Allah tentang rencana tersebut. Suatu pagi, setelah mendapat kepastian dari Allah, Umar berkata, ”Aku telah menuturkan kepada kalian tentang penulisan kitab hadits, dan kalian tahu itu. Kemudian aku teringat bahwa para ahli kitab sebelum kalian telah menulis beberapa kitab disamping Kitab Allah, namun ternyata mereka malah lengah dan meninggalkan kitab Allah. Dan Aku demi Allah, tidak akan mengaburkan Kitab Allah dengan sesuatu apapun untuk selama-lamanya.”[52]

Penting untuk diketahui pula, bahwa para sahabat dianggap telah banyak meriwayatkan hadits bila ia sudah meriwayatkan lebih dari 1000 hadits. Mereka itu adalah Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Anas bin Malik, Sayyidah Aisyah, Abdullah bin Abbas, Jabir bin Abdullah, dan Abu Said al-Khudri[53].

3. Perkembangan Hadits Pada Masa Sahabat Kecil dan Tabi’in (Akhir Era Khulafa’ Ar-Rasyidin hingga Akhir Abad Pertama Hijriyah)

Periode ini disebut ‘Ashr Intisyar al-Riwayah’ (masa berkembang dan meluasnya periwayatan hadits)[54]. Pada masa ini, daerah Islam sudah meluas, yakni ke negeri Syam, Irak, Mesir, Samarkand, bahkan pada tahun 93 H, meluas sampai ke Spanyol. Hal ini bersamaan dengan berangkatnya para sahabat ke daerah-daerah tersebut, terutama dalam rangka tugas memangku jabatan pemerintahan dan penyebaran ilmu hadits[55].

Para sahabat kecil dan tabi’in yang ingin mengetahui hadits-hadits Nabi Saw diharuskan berangkat ke seluruh pelosok wilayah Daulah Islamiyah untuk menanyakan hadits kepada sahabat-sahabat besar yang sudah tersebar di wilayah tersebut. Dengan demikian, pada masa ini, di samping tersebarnya periwayatan hadits ke pelosok-pelosok daerah Jazirah Arab, perlawatan untuk mencari hadits pun menjadi ramai[56].

Karena meningkatnya periwayatan hadits, muncullah bendaharawan dan lembaga-lembaga hadits di berbagai daerah di seluruh negeri. Adapun lembaga-lembaga hadits yang menjadi pusat bagi usaha penggalian, pendidikan, dan pengembangan hadits terdapat di Madinah, Mekah, Bashrah, Syam, Mesir, Maghribi dan Andalus, Yaman dan Khurasan [57].

Pada periode ketiga ini mulai muncul usaha pemalsuan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini terjadi setelah wafatnya Ali r.a. Pada masa ini, umat Islam mulai terpecah-pecah menjadi beberapa golongan: Pertama ialah golongan ‘Ali bin Abi Thalib, yang kemudian dinamakan golongan Syi’ah; kedua ialah golongan Khawarij yang menentang ‘Ali dan golongan Mu’awiyah; dan ketiga ialah golongan jumhur (golongan pemerintah pada masa itu). Terpecahnya umat Islam tersebut, memacu orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk mendatangkan keterangan-keterangan yang berasal dari Rasulullah SAW. untuk mendukung golongan mereka. Oleh sebab itulah, mereka membuat hadits palsu dan  menyebarkannya kepada masyarakat.

4. Perkembangan Hadits Pada Abad II Hijriah (Masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz)

Periode ini disebut ‘Ashr Al-Kitabah wa Al-Tadwin’ (masa penulisan dan pembukuan). Maksudnya, penulisan dan pembukuan secara resmi, yakni yang diselenggarakan oleh atau atas inisiatif pemerintah. Adapun kalau secara perseorangan, sebelum abad II H hadits sudah banyak ditulis, baik pada masa tabiin, sahabat kecil, sahabat besar, bahkan masa Nabi Saw[58].

Masa pembukuan secara resmi dimulai pada awal abad II H, yakni pada masa pemerintahan Khalifah Umar Ibn Abdul Aziz pada tahun 101 H. Sebagai khalifah, Umar Ibn Aziz sadar bahwa para perawi yang menghimpun hadits dalam hafalannya semakin banyak yang meninggal. Beliau khawatir apabila tidak membukukan dan  mengumpulkan dalam buku-buku hadits dari para perawinya, ada kemungkinan hadits-hadits tersebut akan lenyap dari permukaan bumi bersamaan dengan kepergian para penghapalnya ke alam barzakh[59].

Untuk mewujudkan maksud tersebut, pada tahun 100 H, Khalifah meminta kepada Gubernur Madinah, Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazmin (120 H) yang menjadi guru Ma’mar. Al-Laits, Al-Auza’i, Malik, Ibnu Ishaq, dan Ibnu Abi Dzi’bin untuk membukukan hadits Rasul yang terdapat pada penghafal wanita yang terkenal, yaitu Amrah binti Abdir Rahman bin Sa’ad bin Zurarah bin `Ades, seorang ahli fiqh, murid `Aisyah r.a. (20 H/642 M-98 H/716 M atau 106 H/ 724 M), dan hadits-hadits yang ada pada Al-Qasim Ibn Muhammad Ibn Abi Bakr Ash-Shiddieq (107 H/725 M), seorang pemuka tabiin dan salah seorang fuqaha Madinah yang tujuh[60].

Di samping itu, Umar mengirimkan surat-surat kepada gubernur yang ada di bawah kekuasaannya untuk membukukan hadits yang ada pada ulama yang tinggal di wilayah mereka masing-masing. Di antara ulama besar yang membukukan hadits atas kemauan Khalifah adalah Abu Bakar Muhammad Ibn Muslim bin Ubaidillah bin Syihab Az-Zuhri, seorang tabiin yang ahli dalam urusan fiqh dan hadits. Mereka inilah ulama yang mula-mula membukukan hadits atas anjuran Khalifah[61].

Pembukuan seluruh hadits yang ada di Madinah dilakukan oleh Imam Muhammad Ibn Muslim Ibn Syihab Az-Zuhri, yang memang terkenal sebagai seorang ulama besar dari ulama-ulama hadits pada masanya. Setelah itu, para ulama besar berlomba-lomba membukukan hadits atas anjuran Abu `Abbas As-Saffah dan anak-anaknya dari khalifah-khalifah ‘Abbasiyah[62].

Berikut tempat dan nama-nama tokoh dalam pengumpulan hadits yang semuanya terdiri dari ahli-ahli pada abad kedua Hijriah, antara lain:

a. Pengumpul pertama di kota Mekah, Ibnu Juraij (80-150 H)

b. Pengumpul pertama di kota Madinah, Ibnu Ishaq (w. 150 H)

c. Pengumpul pertama di kota Bashrah, Al-Rabi’ Ibrl Shabih (w. 160 H)

d. Pengumpul pertama di Kuffah, Sufyan Ats-Tsaury (w. 161 H.)

e. Pengumpul pertama di Syam, Al-Auza’i (w. 95 H)

f. Pengumpul pertama di Wasith, Husyain Al-Wasithy (104-188 H)

g. Pengumpul pertama diYaman, Ma’mar al-Azdy (95-153 H)

h. Pengumpul pertama di Rei, Jarir Adh-Dhabby (110-188 H)

i. Pengumpul pertama di Khurasan, Ibn Mubarak (11 -181 H)

j. Pengumpul pertama di Mesir, Al-Laits Ibn Sa’ad (w. 175 H)

Kitab-kitab hadits yang telah dibukukan dan dikumpulkan dalam abad kedua ini, jumlahnya cukup banyak. Akan tetapi, yang termasyhur di kalangan ahli hadits adalah:

a. Al-Muwaththa’, susunan Imam Malik (95 H-179 H);

b. Al-Maghazi wal Siyar, susunan Muhammad ibn Ishaq (150 H)

c. Al-jami’, susunan Abdul Razzaq As-San’any (211 H)

d. Al-Mushannaf, susunan Sy’bah Ibn Hajjaj (160 H)

e. Al-Mushannaf, susunan Sufyan ibn ‘Uyainah (198 H)

f. Al-Mushannaf, susunan Al-Laits Ibn Sa’ad (175 H)

g. Al-Mushannaf, susnan Al-Auza’i (150 H)

h. Al-Mushannaf, susunan Al-Humaidy (219 H)

i. Al-Maghazin Nabawiyah, susunan Muhammad Ibn Waqid Al¬Aslamy.

j. A1-Musnad, susunan Abu Hanifah (150 H).

k. Al-Musnad, susunan Zaid Ibn Ali.

l. Al-Musnad, susunan Al-Imam Asy-Syafi’i (204 H).

m. Mukhtalif Al-Hadits, susunan Al-Imam Asy-Syafi’i.

Tokoh-tokoh yang masyhur pada abad kedua hijriah adalah Imam Malik, Yahya ibn Sa’id AI-Qaththan, Waki Ibn Al-Jarrah, Sufyan Ats-Tsauri, Ibnu Uyainah, Syu’bah Ibnu Hajjaj, Abdul Ar-Rahman ibn Mahdi, Al-Auza’i, Al-Laits, Abu Hanifah, dan Asy-Syafi’i.[63]

5. Perkembangan Hadits Pada Abad III Hijriah

Abad ketiga Hijriah disebut dengan Asrut Tajridi wat Tashhili wat Tanqihi atau puncak usaha pembukuan hadits[64]. Sesudah kitab-kitab Ibnu Juraij, kitab Muwaththa’ Imam Malik tersebar dalam masyarakat dan disambut dengan gembira, kemauan menghafal hadits, mengumpul, dan membukukannya semakin meningkat dan mulailah ahli-ahli ilmu berpindah dari suatu tempat ke tempat lain dari sebuah negeri ke negeri lain untuk mencari hadits.

Pada awalnya, ulama hanya mengumpulkan hadits-hadits yang terdapat di kotanya masing-masing. Hanya sebagian kecil di antara mereka yang pergi ke kota lain untuk kepentingan pengumpulan hadits. Keadaan ini diubah oleh Al-Bukhari. Beliaulah yang mula-mula meluaskan daerah-daerah yang dikunjungi untuk mencari hadits. Beliau pergi ke Maru, Naisabur, Rei, Baghdad, Bashrah, Kufah, Mekah, Madinah, Mesir, Damsyik, Qusariyah, `Asqalani, dan Himsh. Imam Bukhari membuat terebosan dengan mengumpulkan hadits yang tersebar di berbagai daerah. Enam tahun lamanya Al-Bukhari terus menjelajah untuk menyiapkan kitab Shahih-nya.

Para ulama pada mulanya menerima hadits dari para rawi lalu menulis ke dalam kitabnya, tanpa mengadakan syarat-syarat menerimanya dan tidak memerhatikan sahih-tidaknya. Namun, setelah terjadinya pemalsuan hadits dan adanya upaya dari orang-orang zindiq untuk mengacaukan hadits, para ulama pun melakukan hal-hal berikut.

a. Membahas keadaan para perawi dari berbagai segi, baik dari segi keadilan, tempat kediaman, masa, dan lain-lain.

b. Memisahkan hadits-hadits yang sahih dari hadits yang dha’if yakni dengan men-tashih-kan hadits

Ulama hadits yang mula-mula menyaring dan membedakan hadits-hadits yang sahih dari yang palsu dan yang lemah adalah Ishaq ibn Rahawaih, seorang imam hadits yang sangat termasyhur. Pekerjaan yang mulia ini kemudian diselenggarakan dengan sempurna oleh Al-Imam Al-Bukhari. Al-Bukhari menyusun kitab-kitabnya yang terkenal dengan nama Al-Jamius Shahil. Di dalam kitabnya, ia hanya membukukan hadits-hadits yang dianggap sahih. Kemudian, usaha Al-Bukhari ini diikuti oleh muridnya yang sangat alim, yaitu Imam Muslim.

Sesudah Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, bermunculan imam lain yang mengikuti jejak Bukhari dan  Muslim, di antaranya Abu Dawud, At-Tirmidzi,dan  An-Nasa’i. Mereka menyusun kitab-kitab hadits yang dikenal dengan Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan At-Tirmidzi, dan  Sunan An-Nasa’i. Kitab-kitab itu kemudian dikenal di kalangan masyarakat dengan judul Al-Ushul Al-Khamsah.

Di samping itu, Ibnu Majah menyusun Sunan-nya. Kitab Sunan ini kemudian digolongkan oleh para ulama ke dalam kitab-kitab induk sehingga kitab-kitab induk itu menjadi sebuah, yang kemudian dikenal dengan nama Al-Kutub Al-Sittah.

Tokoh-tokoh hadits yang lahir dalam masa ini antara lain[65]:

1. Ali Ibnul Madany 8. Imam Muslim
2. Abu Hatim Ar-Razy 9. An-Nasa’i
3. Muhammad Ibn Jarir Ath- Thabari 10. Abu Dawud
4. Muhammad Ibn Sa’ad 11. At-Tirmidzi
5. Ishaq Ibnu Rahawaih 12. Ibnu Majah
6. Ahmad bin Hanbal 13. Ibnu Qutaibah Ad-Dainuri
7. Imam Al-Bukhari

 6. Perkembangan Hadits Pada Abad IV hingga Tahun 656 H

Periode keenam ini dimulai dari abad IV hingga tahun 656 H, yaitu pada masa `Abasiyyah angkatan kedua. Periode ini dinamakan Ashru At-Tahdib wa At-Tartibi wa Al-Istidraqi wa Al-jam’i Al-Khash (masa pemeliharaan, penertiban, penambahan dan penghimpunan).[66]

Ulama-ulama hadits yang muncul pada abad ke-2 dan ke-3, digelari Mutaqaddimin, yang mengumpulkan hadits dengan semata-mata berpegang pada usaha sendiri dan pemeriksaan sendiri, dengan menemui para penghafalnya yang tersebar di setiap pelosok dan penjuru negara Arab, Parsi, dan lain-lainnya.

Setelah abad ke-3 berlalu, bangkitlah pujangga abad keempat. Para ulama abad keempat ini dan seterusnya digelari `Mutaakhirin’. Kebanyakan hadits yang mereka kumpulkan adalah petikan atau nukilan dari kitab-kitab Mutaqaddimin, hanya sedikit yang dikumpulkan dari usaha mencari sendiri kepada para penghapalnya.

Pada periode ini muncul kitab-kitab sahih yang tidak terdapat dalam kitab sahih pada abad ketiga. Kitab-kitab itu antara lain:

a. Ash-Shahih, susunan Ibnu Khuzaimah

b. At-Taqsim wa Anwa’, susunan Ibnu Hibban

c. Al-Mustadrak, susunan Al-Hakim

d. Ash-Shalih, susunan Abu `Awanah

e. Al-Muntaqa, susunan Ibnu Jarud

f. Al-Mukhtarah, susunan Muhammad Ibn Abdul Wahid Al-Maqdisy.[67]

Di antara usaha-usaha ulama hadits yang terpenting dalam periode ini adalah:

a. Mengumpulkan Hadits Al-Bukhari/Muslim dalam sebuah kitab.

Di antara kitab yang mengumpulkan hadits-hadits Al-Bukhari dan Muslim adalah Kitab Al Fami’ Bain Ash-Shahihani oleh Ismail Ibn Ahmad yang terkenal dengan nama Ibnu Al-Furat (414 H), Muhammad Ibn Nashr Al-Humaidy (488 H); Al-Baghawi oleh Muhammad Ibn Abdul Haq Al-Asybily (582 H).

b. Mengumpulkan hadits-hadits dalam kitab enam.

Di antara kitab yang mengumpulkan hadits-hadits kitab enam, adalah Tajridu As-Shihah oleh Razin Mu’awiyah, Al-Fami’ oleh Abdul Haqq Ibn Abdul Ar-Rahman Asy-Asybily, yang terkenal dengan nama Ibnul Kharrat (582 H).

c. Mengumpukan hadits-hadits yang terdapat dalam berbagai kitab.

Di antara kitab-kitab yang mengumpulkan hadits-hadits dari berbagai kitab adalah: (1) Mashabih As-Sunnah oleh Al-Imam Husain Ibn Mas’ud Al-Baghawi (516 H); (2) Yami’ul Masanid wal Alqab, oleh Abdur Rahman ibn Ali Al-Jauzy (597 H); (3) Bakrul Asanid, oleh Al-Hafidh Al-Hasan Ibn Ahmad Al-Samarqandy (49I H).

d. Mengumpulkan hadits-hadits hukum dan menyusun kitab-kitab ‘Athraf[68].

7. Perkembangan Hadits Pada Periode Ketujuh (656 H-Sekarang)

Periode ini adalah masa sesudah meninggalnya Khalifah Abbasiyah ke XVII Al-Mu’tashim (w. 656 H.) sampai sekarang. Periode ini dinamakan Ashru Asy-Sarhi wa Al–Jami’ wa At-Takhriji wa Al-Bahtsi ‘an Az-Zawaaid, yaitu masa pensyarahan, penghimpunan, pen-tahrij-an, dan pembahasan[69]. Usaha-usaha yang dilakukan oleh ulama dalam masa ini adalah menerbitkan isi kitab-kitab hadits, menyaringnya, dan menyusun kitab enam kitab tahrij, serta membuat kitab-kitab syarh dan mukhtashar.

Pada periode ini disusun Kitab-kitab Zawa’id, yaitu usaha mengumpulkan hadits yang terdapat dalam kitab yang sebelumnya ke dalam sebuah kitab tertentu, di antaranya Kitab Zawa’id susunan Ibnu Majah, Kitab Zawa’id As-Sunan Al-Kubra disusun oleh Al-Bushiry, dan masih banyak lagi kitab zawa’id yang lain.

Di samping itu, para ulama hadits pada periode ini mengumpulkan hadits-hadits yang terdapat dalam beberapa kitab ke dalam sebuah kitab tertentu, di antaranya adalah Kitab Fami’ Al-Masanid wa As-Sunan Al-Hadi li Aqwami Sanan, karangan Al-Hafidz Ibnu Katsir, dan fami’ul  fawami susunan Al-Hafidz As-Suyuthi (911 H).

Banyak kitab dalam berbagai ilmu yang mengandung hadits-hadits yang tidak disebut perawinya dan pen-takhrij-nya. Sebagian ulama pada masa ini berusaha menerangkan tempat-tempat pengambilan hadits-hadits itu dan nilai-nilainya dalam sebuah kitab yang tertentu, di antaranya Takhrij Hadits Tafsir Al-Kasysyaf karangan Al-Zailai’i (762), Al-Kafi Asy-Syafi fi Tahrij Ahadits Al-Kasyasyaf oleh Ibnu Hajar Al-`Asqalani, dan masih banyak lagi kitab takhrij lain.

Sebagaimana periode keenam, periode ketujuh ini pun muncul ulama-ulama hadits yang menyusun kitab-kitab Athraf, di antaranya Ithaf Al-Maharah bi Athraf Al- Asyrah oleh Ibnu Hajar Al-`Astqalani, Athraf Al-Musnad Al-Mu’tali bi Athraf Al-Musnad Al-Hanbali oleh Ibnu Hajar, dan masih banyak lagi kitab Athraf yang lainnya.

Tokoh-tokoh hadits yang terkenal pada masa ini adalah: Adz-Dzahaby (748 H), Ibnu Sayyidinnas (734 H), Ibnu Daqiq Al-`Ied, Muglathai (862 H), Al-Asqalany (852 H), Ad-Dimyaty (705 H), Al-`Ainy (855 H), As-Suyuthi (911 H), Az-Zarkasy (794 H), Al-Mizzy (742 H), Al-`Alay (761 H), Ibnu Katsir (774 H), Az-Zaily (762 H), Ibnu Rajab (795 H), Ibnu Mulaqqin (804 H), Al-Bulqiny (805 H), Al-`Iraqy (w. 806 H), Al-Haitsamy (807 H), dan Abu Zurah (826 H).[70]

D. Kesimpulan

Hadits menurut bahasa berarti sesuatu yang baru, berita, dan dekat. Secara istilah memiliki beberapa pengertian menurut ulama muhadditsun, ushuliyyun, dan fuqaha, namun secara garis besar berarti semua yang datang dari Rasul Saw, baik berupa perkataan, tindakan, ataupun ketetapan beliau.

Fungsi hadits terhadap Al-Qur’an secara umum terdiri dari enam macam, yaitu: sebagai bayan ta’kid, bayan tafsir, bayan takhshis, bayan taqyid, bayan tasyri’, dan bayan tabdil. Meski terjadi perbedaan pandangan dari para ulama mengenai bayan, namun secara umum terbagi menjadi empat pendapat ada yang berbeda tetapi memiliki esensi yang sama yaitu Secara umum berfungsi untuk menguatkan (ta’qid), merinci (tafshil), menjelaskan (tafsir), memunculkan hukum baru (tasryi’) serta merevisi hukum Al-Qur’an (naskh).

Sejarah perkembangan hadits merupakan masa atau periode yang telah dilalui oleh hadits dari masa lahirnya dan tumbuh dalam pengenalan, penghayatan, dan pengamalan umat dari generasi ke generasi. Adapun T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy membagi sejarah perkembangan hadits dalam tujuh periode, antara lain:

a. Masa Rasulullah Saw.

Masa ini disebut dengan ‘Ashr Al-Wahyi wa At-taqwin’ (masa turunnya wahyu dan pembentukan masyarakat Islam). Pada masa ini, hadits belum mendapat pelayanan dan perhatian sepenuhnya seperti Al-Qur’an. Rasulullah Saw hanya mengizinkan untuk menghafalkan saja, tidak diperkenankan ditulis seperti halnya Al-Qur’an.

b. Masa Khulafaur Rasyidin

Masa ini disebut dengan ‘Ash-At-Tatsabbut wa Al-Iqlal min Al-Riwayah’ (masa membatasi dan menyedikitkan riwayat). Pada masa ini, para sahabat memfokuskan kepada kitab Allah (Al-Qur’an) dan memeliharanya dalam lembaran-lembaran mushaf, dan dalam hati mereka. Sedangkan hadits hanya sebatas melalui jalan periwayatan, baik periwayatan lafzhi (redaksinya persis seperti yang disampaikan Rasul Saw) dan maknawi (maknanya saja).

c. Masa pasca era Khulafaur Rasyidin hingga abad pertama Hijriyah

Masa ini disebut dengan ‘Ashr Intisyar al-Riwayah’ (masa berkembang dan meluasnya periwayatan hadits). Para sahabat kecil dan tabi’in yang ingin mengetahui hadits-hadits Nabi Saw diharuskan berangkat ke seluruh pelosok wilayah Daulah Islamiyah untuk menanyakan hadits kepada sahabat-sahabat besar yang sudah tersebar di wilayah tersebut. Dengan demikian, pada masa ini, di samping tersebarnya periwayatan hadits ke pelosok-pelosok daerah Jazirah Arab, perlawatan untuk mencari hadits pun menjadi ramai. Pada periode ini pula mulai muncul usaha pemalsuan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab karena motif politik.

d. Masa abad kedua Hijriyah

Masa ini disebut dengan ‘Ashr Al-Kitabah wa Al-Tadwin’ (masa penulisan dan pembukuan). Maksudnya, penulisan dan pembukuan secara resmi, yakni yang diselenggarakan oleh atau atas inisiatif pemerintah. Pemerintah yang dimaksud ialah pada masa pemerintahan Khalifah Umar Ibn Abdul Aziz pada tahun 101 H. Pada masa ini pula muncul para ulama yang membukukan hadits pertama kali, seperti Imam Muhammad Ibn Muslim Ibn Syihab Az-Zuhri, kemudian Imam Malik dengan kitab Al-Muwaththa’-nya, dan lain-lain.

e. Masa abad ketiga Hijriyah

Masa ini disebut dengan ‘Asrut Tajridi wat Tashhili wat Tanqihi’ (puncak usaha pembukuan hadits). Pada masa ini banyak bermunculan para ulama yang pergi ke kota lain untuk kepentingan pencarian dan pengumpulan hadits. Para ahli hadits yang dimaksud ialah seperti Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah, yang mereka semua dijuluki Al-Ushul Al-Khamsah. Mereka tidak hanya membukukan hadits, tapi juga melakukan upaya-upaya seperti menyeleksi hadits dengan memerhatikan sahih-tidaknya hadits, dan membahas keadaan para perawi hadits.

f. Masa abad keempat hingga tahun 656 Hijriyah

Masa ini disebut dengan Ashru At-Tahdib wa At-Tartibi wa Al-Istidraqi wa Al-jam’i Al-Khash (masa pemeliharaan, penertiban, penambahan dan penghimpunan). Beberapa usaha ulama hadits yang terpenting dalam periode ini adalah mengumpulkan hadits Bukhari Muslim dalam sebuah kitab, mengumpulkan hadits-hadits dalam kitab enam, dan mengumpulkan hadits-hadits hukum.

g. Masa tahun 656 H hingga Sekarang

Masa ini disebut dengan Ashru Asy-Sarhi wa Al–Jami’ wa At-Takhriji wa Al-Bahtsi ‘an Az-Zawaaid, yaitu masa pensyarahan, penghimpunan, pen-tahrij-an, dan pembahasan. Usaha-usaha yang dilakukan pada masa ini adalah menerbitkan isi kitab-kitab hadits dan menyaringnya dalam enam kitab tahrij, kitab-kitab mukhtashar, dan syarh.

E. Daftar Rujukan

Al-Khatib, Al-Ajjaj. 1981. as-Sunnah Qabla at-Tadwin. Beirut: Dar al-Fikr.

Al-Tahawuni, Dzafar Ahmad Utsmani. 1972. Qowa’id al-Ulum al-Hadits. Beirut: Maktabah al-Mathba’ah al-Islamiyah.

Amin, Ahmad, 1968. Fajar Islam. Terj. Zaini Dahlan. Jakarta: Bulan Bintang.

Amin, Muhammadiyah. 2008. Ilmu Hadist. Yogyakarta: Graha Guru.

As-Shalih, Subhi, Cet. 2009. Membahas Ilmu-Ilmu Hadits: Sebab-Sebab Sedikitnya Penulisan Di Masa Rasulullah. Jakarta: Pustaka Firdaus.

Ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi. 1973. Sejarah Perkembangan Hadits. Jakarta: Bulan Bintang,

Asy-Syaukani, Muhammad bin Ali bin Muhammad. 2006. Irsyadul Fuqul Jilid 1. Kairo: Maktabah Darus Salam.

At-Tahhan, Mahmud. 2007. Ushul al-Takhrij wa Dirasah al-Asanid. Terj. Imam Ghazali Sa’id. Surabaya: Diantama.

Aziz, Syaikh Muhammad Abdul. 1984. Tarikh Fununul Hadits an-Nabawiyah. Madinah: Darul Ibnu Katsir.

Azmillah, Safar. 1984. Maqabisi An-Naqd Mutuni As-Sunnah. Riyadh: Mamlakah Arabiah As-Su’udiyah.

Hadi, Saeful. Tt. Ulumul Hadits: Panduan Ilmu Memahami Hadits Secara Komprehensif. Yogyakarta: Sabda Media.

Hasimy, A. 1972. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

Idri. 2010. Studi Hadist. Jakarta: Kencana.

Khaeruman, Badri. 2010. Ulum al-Hadist. Bandung: Pustaka Setia.

Khon, Abdul Majid. 2013. Ulumul Hadits. Jakarta: Amzah.

Razak, Nasruddin. 1973. Dienul Islam. Bandung: Al-Ma’arif.

Soetari, Endang. 2005. Ilmu Hadits: Kajian Riwayah dan Dirayah. Bandung: Mimbar Pustaka.

Solahudin, Agus dan Agus Suyadi. 2011. Ulumul Hadits: Sejarah Perkembangan Hadits. Bandung: Pustaka Setia.

Suparta, Munzier. 2011. Ilmu Hadits. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Umarie, Barmawie. 1965. Status Hadits Sebagai Dasar Tasjri. Solo: AB. Siti Sjamsijah.

Zahwu, Muhammad Abu. 1987. al-Hadits wa al-Muhadditsun. Mesir: Maktabah al-Misriyah.

Abu Yasid. Hubungan Simbiotik Al-Qur’an dan Al-Hadist Dalam Membentuk Diktum-Diktum Hukum. Ponorogo: Jurnal Tsaqofah, Vol.7, No.1, April 2011.

Hadits Masa Rasulullah. Dikutip dari situs http://kickylover.blogspot.com/2010/06/-hadits-masa-rasulullah. Diakses pada tanggal 13 Pebruari 2017.